Pemain Timnas Hanya Serdadu Perang, Ketika Kalah Dihakimi & Dimaki

Posted on
, Indonesia – Timnas Indonesia mengalami dua kekalahan di dua laga babak kualifikasi zona Asia Piala Dunia 2022. Melawan Malaysia, Indonesia dibekuk dengan skor 3-2, sedangkan melawan Thailand dipecundangai dengan tiga gol tanpa balas, Rabu (11/9/2019).

Publik Indonesia pun berbondong-bondong memberikan kritik hingga caci maki kepada tim besutan Simon McMenemy tersebut. Tidak hanya caci maki, sejumlah warganet bahkan menggas tagar SimonOut.

Makian yg deras mengalir kepada pemain timnas menumbilkan kekhawtiran bagi sebagian kalangan sepak bola nasional. Salah satunya datang dari mantan bomber timnas Indonesia, Bambang Pamungkas.

Tulisan saya (10 tahun lalu) tentang bagaimana psikologis menjadi pemain nasional, yg rasanya sedikit banyak masih relevan untuk saat ini. “Serdadu & Narapidana” —> https://t.co/ihUMVNKTok

— Bambang Pamungkas (@bepe20) September 11, 2019

Lewat akun Twitter pribadinya, pemain yg akrab disapa Bepe tersebut memposting ulang tulisannya 10 tahun lalu terkait kondisi psikologi pemain timnas.

Judi.biz

Agen Bola SBOBET Judi.biz

Ketahuan Nonton Bola di Stadion, Wanita Ini Tewas Bakar Diri

Bernardo Silva: Cristiano Ronaldo Buat Segalanya Lebih Mudah

Llorente: Juventus dalam Tekanan, Bukan Napoli

“Tulisan saya (10 tahun lalu) tentang bagaimana psikologis menjadi pemain nasional, yg rasanya sedikit banyak masih relevan untuk saat ini. “Serdadu & Narapidana” kicau Bepe di akun Twitter pribadinya.

Tulisan yg dimuat Bepe di blog pribadinya memuat bagaimana beratnya seorang pemain sepak bola menata kariernya. Secara psikologis mengatakan Bepe tak jarang banyak pemain yg terganggu psikisnya.

“Kami hanya akan bertemu keluarga jika mereka datang berkunjung di waktu siang, itu pun waktunya terbatas karena kami harus istirahat untuk berlatih kembali di sore harinya.”

“Apalagi jika kami harus mengerjakan lawatan atau TC ke luar negeri, yg terkadang memakan waktu hingga 2 minggu, atau bahkan 1 bulan. Sehingga secara psikologis hal tersebut sedikit banyak mengganggu psikologis kami, terutama bagi mereka yg sudah berkeluarga.” tulis Bepe.

Secara garis besar apa yg dihinggakan oleh Bepe dalam artikelnya tersebut mencurahkan beratnya seorang pesepak bola membagi waktu antara karier & kondisi internal dirinya. Bepe menyayangkan bagaimana publik terlalu cepat untuk mencari kambing hitam kepada pemain saat permainan buruk.

“Selama ini kita hanya mencari kambing hitam dalam setiap kegagalan, tanpa mau duduk bersama untuk mencari titik permasalahan yg sebenarnya, & mencari solusi terbaik untuk mengatasinya.” tulis Bepe.